Kamis, 29 November 2012

Going Home

     Tadi itu hujan turun tiba-tiba tanpa ada yang menyangka. Hujan deras itu tidak masalah, yang masalah itu timing-nya. Seringkali belum sampai di rumah tiba-tiba hujan di jalan, coba saja hujan bisa diajak kompromi.... Saat berjalan di jembatan, seorang anak berusaha membuka payungnya karena tiba-tiba mulai gerimis disertai angin kencang. Ada seorang ibu-ibu berseru, "anginnya kekencengan, jangan pake payung, ga bisa!" Anak itu berpikir, "iya Bu, saya tau, ga ada salahnya kok mencoba..." Ketika payung dibuka, astaga! payungnya langsung terbalik seperti kuali bentuknya. Karena panik, anak itu menutup payungnya. Sayangnya ada kawat payung yang terlihat rusak dan tidak bisa terlipat ke dalam. Dia pun menambah kecepatan berjalannya sampai turun dari jembatan ke jalan raya supaya dapat tiba di rumah sebelum hujan deras. 
     Tiba-tiba hujan semakin tidak bersahabat, angin semakin kencang pula. Anak ini pun mengeluarkan dan mengenakan topinya sambil menyeberangi jalan raya. Sesampainya ia di tengah jalan, motor yang seharusnya berhenti ketika ada yang menyeberang justru tetap melaju meski anak ini ada di depannya. Anak ini pun berteriak pada pengendara itu, "WOI!" Pengendara motor itu diam dan melirik ke arahnya karena terkejut sementara dia hanya berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Sebenarnya dia tidak mau berteriak, tetapi sudah berulang kali para pengendara motor tidak berhenti untuk memberikan kesempatan menyeberang bagi para pejalan kaki. Hal itu memang membuatnya kesal saat ingin cepat sampai di rumah, sehingga dia berteriak. Ia hanya berkata dalam hati, "makanya kalau lampu merah tuh stop dulu biar pada bisa nyebrang, mank enak dijeritin depan umum?"
    Anak ini kembali melanjutkan perjalanan pulang. Ia langsung lari karena hujannya bertambah deras lagi. Ternyata angin terlalu kencang, sehingga topinya terbang lepas dari kepalanya. Dia pun kembali mengambilnya sementara ada empat orang pejalan kaki di sebelahnya yang tersenyum kecil melihatnya. Dia malu, sehingga tidak lagi melihat para pejalan kaki itu dan kembali berlari sambil memegang topinya. Lima menit kemudian, anak ini sudah berada di jalan rumahnya. Dia mencoa kembali membuka payungnya, ternyata kawat yang kelihatan rusak itu masih dapat berfungsi. Dia pun percaya diri dapat berjalan ke rumah dengan santai karena dapat menggunakan payung selagi hujan. Angin tiba-tiba kembali menerpa payung itu sampai membuat payung ini terbalik lagi. Seorang ibu-ibu di jalan itu tertawa dan berkata, "yaahh... kebalik...." Si Anak hanya melihat ibu-ibu itu dan kembali berjalan sampai ke rumahnya sementara ibu ini masih tertawa. Si anak hanya berpikir, "mimpi apa gue semalem, kenapa kayaknya gue lagi apes ya... setidaknya ni hari blajar biar laen kali ga nekad."

Minggu, 18 November 2012

"Ujan" yang Paling Ditakuti

Belajar juga dapat menyebabkan stres,
sayangnya hal ini sering terabaikan.
   "Ujan" apa yang paling ditakuti para siswa-siswi di sekolah dan para mahasiswa???? Ujian jawabannya, cukup hilangkan huruf "i" jadilah "ujan"... Seperti apapun upaya yang dilakukan, tidak akan pernah berhasil melepaskan diri dari "ujan" yang satu ini, selalu ada bersama kita dalam suka maupun duka. Uniknya setiap ada ujian saat sedang menempuh pendidikan formal, hampir selalu ada ujian lain. Misalnya kita sakit, putus asa, masalah hubungan dengan keluarga, dan lain-lain. Seakan-akan kita menghadapi dua ujian sekaligus dalam waktu bersamaan. Ingin memandangnya seperti apa, itu terserah pada kita.
   Apabila kita merasa kita tidak mampu menghadapi situasi ini, dilihat "ancaman". Sebaliknya, apabila kita merasa mampu menghadapinya, kita cenderung melihatnya sebagai "tantangan". Apa bedanya? "Ancaman" yang dimaksudkan adalah ancaman seolah-olah "berakhirlah sudah perjalanan ini". Kita merasa tidak ada lagi yang dapat dilakukan dan pasrah saja. Jika kita memandangnya sebagai "tantangan", tentu kita lebih semangat untuk mencari solusinya. Ketika kita merasa sebuah situasi adalah ancaman bagi kita, kita cenderung mengalami yang namanya stres. Stres ini memiliki berbagai gejala. Dapat berupa gejala emosi, seperti cemas misalnya. Atau jika sudah parah, dapat berdampak pada fisik, contohnya merasa sakit perut setiap kali melihat buku pelajaran untuk ujian. Kalau orang-orang yang tidak mengerti stres itu seperti apa mungkin mengatakan, "ahhh, alasan! tiap kali belajar pasti bilangnya sakit perut. bialng aja pengen maen...."
    Stres itu sebenarnya tidak hanya respon secara psikologis, tetapi juga respon fisik. Ketika stres, detak jantung dapat berdetak lebih cepat, akibatnya sistem-sistem dalam tubuh juga terpengaruh. Kita pilih satu contoh, sistem limbik. Sistem ini berperan dalam emosi kita. Jika stres memengaruhi sistem ini, cara kita bereaksi terhadap situasi pun akan berubah. Kita bisa menjadi pendiam, bisa menjadi pemarah, menjadi agresif, dan lain-lain. Sistem pencernaan juga terpengaruh. Produksi asam lambung pun meningkat jika kita stres, itulah sebabnya kita dapat merasa sakit perut ketika melihat buku pelajaran, bukan alasan untuk melarikan diri dari belajar bukan???
   Alangkah baiknya jika kita mampu mendeteksi gejala-gejala ini selama kita sedang mempersiapkan diri untuk ujian. Sebenarnya terdapat dua opsi secara umum untuk solusinya, ingin mengatasi masalahnya langsung atau mengatur emosi terlebih dahulu? Keduanya sama-sama bagus dan memiliki pengaruh positif tersendiri. Ketika keduanya digabung, hasilnya tentu lebih memuaskan. Misalnya, pertama-tama kita mencoba membuat suasana hati kita senang dengan meninggalkan buku dan melakukan hobi. Saat kita merasa sudah cukup puas melakukan hobi, baru coba menangani masalahnya (belajar untuk ujian). Hasilnya, saat kita belajar kita merasa senang dan materi-materi yang dipelajari pun terasa lebih mudah.

Rabu, 07 November 2012

Sakitnya Disalahkan

    Rasanya benar-benar menyakitkan kalau sering disalahkan atas apa yang tidak kita lakukan, seperti yang dialami oleh Z. Z dan ayahnya seringkali bergantian memakai komputer. Z sama sekali tidak mengerti bagaimana cara log-off, memasang password pada sistem, mengunci komputer atau yang semacamnya. Ketika ia membuka komputer dan bermain di komputer, ayahnya datang dan mengatakan dengan nada keras, "lu konci ya komputernya? ampe gue ga bisa maen!" Z sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan dan hanya membalas "tidak". Ayahnya sama sekali tidak percaya padanya dan membentak, "Bohong! ga mungkin lu ga ngerti! .... (sambil melontarkan kata-kata kasar)".  Ini bukan pertama kalinya Z disalahkan atas sesuatu yang tidak dilakukannya, ini sudah ke sekian kalinya. Tentu Z merasa sakit dilontarkan kata-kata kasar oleh ayahnya sendiri. Z yang tidak tahan lagi hanya membalas dengan ketus, "Siapa yang konci coba, ngerti aja ngga. kalau nuduh tuh pake bukti, ga ada bukti maen salahin orang. dikira ga sakit apa? semua disalahin juga sakit, emangnya papa ga sakit apa kalau disalahin? emangnya Z ga punya prasaan kayak papa?" Mulai saat ini keduanya membisu hingga keesokan harinya.
     Z yang masih sakit hati atas perlakuan ayahnya mencoba berbagi dengan ibu dan teman-temannya. Ibu dan teman-temannya pun terkejut bahwa Z benar-benar marah sampai melontarkan kata-kata yang ketus. Z yang merasa tidak dihargai oleh ayahnya merasa bingung apa yang harus diperbuat lagi. Dia merasa dirinya tidak salah setelah berpikir kembali. Dia cenderung menjadi pemarah jika berhadapan dengan seseorang yang menyalahkannya dengan cara yang tidak baik seperti langsung membentak tanpa mengklarifikasi terlebih dahulu. Sayangnya, ayah Z tidak benar-benar mengetahui karakter Z seperti ini karena dia sering disalahkan oleh ayahnya. Di satu sisi Z ingin berusaha untuk menerima ayahnya apa adanya, di lain sisi dia sangat membenci kecenderungan ayahnya yang suka menyalahkan orang lain, tidak hanya Z tetapi ibunya dan orang-orang lain juga disalahkan. Akhirnya Z memutuskan untuk tidak memakai komputer di saat ada ayahnya supaya dia tidak disalahkan mengunci komputer, karena hanya dia yang memakainya selain sang ayah. Tentu hal ini akan mengurangi produktivitasnya saat dia kuliah, karena sebagian besar tugas kuliah dikerjakan dengan komputer. Salah satu sumber hiburan Z juga komputer itu. Z sebenarnya ingin sekali menjadi pribadi yang tidak oversensitive jika disalahkan, tetapi dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya jika lingkungan sosialnya selalu membuatnya seperti itu. Sepanjang hari dia hanya berusaha tetap tersenyum di hadapan siapapun untuk menyembunyikan kemarahannya.

Keluarga juga dapat menentukan bagaimana kepribadian
seorang anak berkembang ketika dia dewasa kelak.
baik melalui nila-nilai dan norma, maupun perilaku masing-masing anggota keluarga.

Selasa, 23 Oktober 2012

Rasa Kehilangan

Setiap pertemuan, selalu ada perpisahan.
yang dapat kita harapkan hanya yang terbaik untuknya.
    Umumnya rasa kehilangan memang dikatkan dengan meninggalnya salah satu anggota keluarga atau kerabat-kerabat dekat. Dewasa ini, bukan hal yang mustahil lagi jika hewan dianggap sebagai bagian keluarga. Akibatnya, ketika hewan itu meninggal, rasa sedih pun senantiasa bersama kita sama halnya seperti keluarga apabila terdapat rasa sayang. Inilah rasa kehilangan itu. Hal yang serupa pun terjadi pada saya hari ini. Saya memelihara seekor anjing dari saat saya masih SMP kelas 8 diberikan oleh seorang teman orangtua saya. Saya seringkali bermain dengannya setiap pulang sekolah sampai sekarang. Terkadang saya juga memberinya makan dan minum. Tak dapat disangka, dia pergi untuk selamanya kemarin malam dan baru diketahui pagi tadi. Dia sudah dianggap sebagai bagian keluarga saya. Di keluarga saya rasanya kurang jika tidak ada anjing. Ketika dia meninggal, semua anggota keluarga merasakan hal yang sama, sedih. Papa juga tidak bisa berbicara dengan intonasi tinggi, suaranya pun bergetar padahal ini jarang sekali terjadi. Setelah saya memastikan dengan mata kepala sendiri, dia tergeletak di atas tanah dalam kondisi tidak bergerak dan mata yang terbuka. Saya terkejut dan tidak berani lagi melihatnya. Tanpa komentar, saya naik ke lantai dua dan masuk ke kamar dan memberitahu mama. Saya tidak berani menatap mata mama, suara saya pun semakin lama semakin pelan dan rasanya sangat sedih.
     Akhirnya, saya kembali tidur-tiduran di ranjang, air mata pun menetes karena tidak tertahankan. Hal ini mungkin terjadi karena saya dan anjing itu sudah memiliki ikatan emosional yang kuat. Setiap saya sedang bermasalah, dia selalu menggonggong seolah-olah dia mengetahui perasaan saya. Padahal dia anjing yang pendiam. Ketika dia bermasalah saya pun dapat mengetahuinya dengan cepat hanya dengan melihatnya dan mendengar suara gonggongannya. Tidak ada siapapun yang patut disalahkan. Usianya memang sudah lanjut untuk usia anjing sejenisnya. Dia sudah hidup lebih dari 6 tahun lamanya, persisnya memang saya tidak begitu tahu. Umumnya anjing jenis teckle berusia maksimal sekitar 15 tahun. Jadi, kami sekeluarga berkesimpulan memang sudah waktunya dia dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. 
     Selama saya menangis, saya hanya berkata dalam hati meminta agar Yang Maha Kuasa mau menerimanya di sisi-Nya dan senantiasa memelihara dan menjaganya. Saya hanya dapat percaya bahwa Yang Maha Kuasa tentu lebih mampu memeliharanya daripada kami semua, sehingga saya berkeyakinan itu memang kehendak-Nya. Kehendak-Nya memang selalu yang terbaik untuk semuanya, meskipun terkadang kita tidak menyadari itu. Selain itu saya juga masih memiliki keluarga dan teman. Bagaimana cara mereka berinteraksi dengan saya jika saya terlihat sedang menutup diri dan masih larut dalam kesedihan? Itu yang akan muncul dalam pikiran mereka. Terdapat kemungkinan juga mereka berpikir saya sedang sensitif, jadi tidak banyak berinteraksi dengan saya untuk menghindari rasa sensitif berlebihan dari saya. Akhirnya saya memutuskan untuk memikirkan hal lain saja dan mengerjakan apapun seperti biasa, karena hari ini saya harus presentasi. Seorang presenter pun harus profesional, tidak mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan.

Jumat, 19 Oktober 2012

Pelajaran Bahasa Inggris akan Dihapus, Positif atau Negatif?

     Pagi ini saya sempat mendengarkan perbincangan di radio mengenai penghapusan mata pelajaran bahasa Inggris untuk pendidikan Sekolah Dasar (SD) di Indonesia. Alasannya adalah dengan adanya pelajaran bahasa Inggris membuat anak menjadi tidak fokus belajar bahasa Indonesia. Saya sendiri mempertanyakan apakah itu benar, kemudian menemukan artiketl-artikel berita berkaitan dengan itu, ternyata benar. Kasus ini masih belum pasti, masih ada pihak pro dan kontra. Pihak yang pro mengungkapkan bahwa bahasa Inggris terlalu berat sehingga anak cenderung lebih mengutamakannya daripada mata pelajaran lain. Pihak kontra mengatakan bahasa Inggris penting dalam dunia internasional. Masalah ini kompleks, karena dapat berdampak dalam berbagai aspek.
     Anggap keputusan itu dilaksanakan. Jika pelajaran Inggris tidak ada, sisi positifnya murid dapat lebih berfokus pada mata pelajaran lain sesuai harapan pada kasus ini. Terdapat pula kemungkinan nilai-nilai murid akan meningkat, karena mereka lebih mudah mencerna materi dengan bahasa Indonesia. Sisi negatifnya, murid akan kehilangan kesempatan untuk belajar dan mengasah keterampilan berbahasa Inggris sejak dini. Apabila keterampilan itu baru akan diperkenalkan ketika menduduki Sekolah Menengah Pertama (SMP),tentu akan menimbulkan masalah adaptasi. Seseorang yang terbiasa dengan pola DM (diterangkan-menerangkan) harus berpikir sebaliknya, tentu membutuhkan proses. Ditambah lagi harus menghafal sekian banyak jenis kalimat, tata bahasa, dan perbendaharaan kata. Tentu bukan proses yang mudah bukan?
      Suatu masalah belum tentu disebabkan hanya oleh satu faktor saja. Dalam hal ini faktor itu adalah bahasa Inggris. Saat saya mendengarkan radio terdapat fakta bahwa setiap kali ujian nilai terendah selalu bahasa Indonesia, sehingga hal ini menjadi asumsi bahasa Inggris membuat anak tidak fokus belajar bahasa Indonesia. Belajar bahasa tidak sama dengan belajar matematika, ekonomi, fisika, atau pelajaran lainnya. Pelajaran bahasa apapun dipelajari teorinya dan dipraktekkan dalam bentuk percakapan atau tulisan. Apabila tidak terbiasa berbahasa Inggris, tentu hasilnya juga tidak akan sebanding. Sama halnya dengan bahasa Indonesia, apa yang kita pelajari juga tidak akan sia-sia jika dipraktikkan. Jaman sekarang bahasa Inggris menjadi bahasa internasional bukan? Buku-buku kuliah pun hampir semuanya berbahasa Inggris, apa yang terjadi jika kita tidak menguasai bahasa Inggris dengan baik?
Anak akan bingung jika
belajar 2 bahasa
terlalu dini
      Bukanlah hal mustahil jika kedua bahasa itu dapat berkembang dengan baik dalam diri seseorang. Sebelum belajar bahasa asing, sebaiknya individu menguasai bahasa ibu terlebih dahulu. Setelah itu baru belajar bahasa asing. Apabila dijalankan bersamaan, anak akan bingung dengan bahasa apa dia harus berbicara. Hukum yang sama pun tetap berlaku. Kedua bahasa yang dipelajarinya tetap harus dipraktikkan agar keduanya dapat dikuasai dengan baik. Penjelasan itu saya dengar saat saya mendengarkan penjelasan narasumber di radio. Jika diperhatikan lebih lanjut, jika keduanya dapat berjalan dengan baik seperti itu bukankah murid akan lebih merasakan manfaat belajar? Dia akan mampu belajar dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing, sehingga pintu ilmu pengetahuan juga terbuka lebar untuknya. Buku-buku berbahasa Indonesia maupun berbahasa asing tidak menjadi masalah baginya apabila dia mampu menguasainya.

Kamis, 27 September 2012

Eternal Friends

     Melihat seseorang yang sedang putus asa bukanlah sesuatu yang mudah apabila kita pernah merasakannya. Terlepas dari apa alasannya, putus asa tetaplah putus asa dan membuat kita merasa tertekan secara emosional. Dahulu saya dan teman-teman saya pun pernah putus asa berat karena dicurigai melakukan sesuatu yang buruk sampai dibawa ke suatu instansi untuk dites oleh pihak tertentu dengan alasan "tes gratis, ga perlu bayar", padahal tidak melakukan apapun. Usai menjalani tes, dia mengatakan "hasil tesnya ga kluar, kamu tes lagi aja". Hal itu berlangsung 3 kali. Sementara teman yang lain hanya sekali mengulang. Akhirnya tes disudahi dan dipanggil satu per satu ke dalam ruangan tester. Tiba giliran saya dipanggil, dia mengatakan bahwa hanya hasil tes saya yang tidak keluar, pasti ada yang saya sembunyikan.
     Dia berpikir saya memiliki rahasia besar yang disembunyikan dan mengajukan banyak pertanyaan seputar hal itu. Selama itu saya tersudut dan tersiksa secara mental, juga merasa takut. Dia terus menanyakan rahasia saya. Saya sendiri tidak pernah menyimpan rahasia tetapi terus disudutkan dengan pertanyaan-pertanyaan dan ekspresi tidak bersahabat dari sang penanya. Sampai akhirnya dia tidak sengaja mengucapkan tujuannya mencari kebenaran dalam sebuah kasus saya melakukan perbuatan buruk. Saya hanya membalas, "Jadi bapak menuduh saya?" Di terus saja menyangkal dan tetap memojokkan saya. Setelah keluar dari ruangan saya hanya menahan air mata, karena saya hanya berpikir dalam situasi itu pun saya harus tetap menghormati yang lebih tua sampai saya tidak mungkin marah di depannya. Air mata itu pun tidak tertahan lagi, menetes selama saya berjalan ke rumah. Setelah menceritakan semuanya kepada orangtua, rasa marah dan kecewa belum pudar. Akhirnya saya menyalakan pendingin ruangan, mematikan lampu kamar, dan mengurung diri sambil menangis keras. Keesokan harinya di sekolah saya ingin menyendiri dan tidak mau bergaul dengan teman-teman lain karena takut dikucilkan. Hari demi hari terlewati dengan rasa sakit yang tak kunjung hilang. Setiap pulang ke rumah hanya mengurung diri dan berusaha tegar meskipun tetap gagal dan menangis.
     Performa saya di sekolah pun turun drastis, biasanya mendapatkan nilai 70 untuk pelajaran sejarah sekarang hanya mendapat 45. Sudah dua kali remedial diberikan, tetapi hanya memperoleh nilai 30 dan 40. Teman-teman saya hanya mencoba menghibur dan saya hanya bisa meneteskan air mata. Sepulang sekolah saya hanya berpikir teman-teman dan keluarga saya tidak menginginkan saya seperti ini. Mereka pun tidak akan senang melihat keadaan saya yang lemah seperti itu. Jika saya terluka, yang terluka bukan hanya saya, tetapi keluarga dan teman-teman juga. Perlahan-lahan saya memberanikan diri kembali berinteraksi dengan teman-teman dan mencari kesibukan untuk melupakan luka masa lalu itu. Memang usaha itu menghabiskan banyak waktu dan tenaga sampai satu tahun lamanya baru benar-benar pulih. Sampai sekarang pun luka itu tetap ada, tetapi tidak sesakit dulu. Kejadian tersebut membuat saya memiliki kepribadian yang lebih kuat dari sebelumnya. Saat bertemu masalah saya yakin mampu mengatasinya, karena saya mampu mengatasi masalah yang jauh lebih berat. Pada akhirnya saya pun tidak tahan melihat seseorang putus asa, rasanya saya ingin sekali membantunya meskipun belum mengetahui cara yang tepat. Saya hanya berharap orang itu dapat menemukan sesuatu yang positif dari dirinya dan menjadikan itu sebagai kekuatannya untuk mengalahkan rasa putus asa seperti yang saya lakukan.

Teman-teman akan selalu ada untuk kita.
Ketika kita berpikir tentang mereka,
mereka akan selalu ada di hati kita
dan memberikan dukungan bagi kita.

Senin, 17 September 2012

Senyuman Kecil

   Siapa yang tidak punya masalah sepanjang hidupnya? Masalah adalah teman terdekat kita yang selalu ada kapanpun dan dimanapun, selalu saja setia bersama kita (padahal kita tidak pernah memintanya). Ada masalah yang sangat mudah kita selesaikan, tetapi ada pula yang sangat sulit kita selesaikan sampai-sampai kita terlalu banyak memikirkan masalah itu. Sumber masalah pun bermacam-macam, ada yang berasal dari pekerjaan, hubungan sosial, lingkungan, dan lain-lain. Jangan biarkan pikiran kita dikuasai oleh mereka! Mereka boleh saja tinggal di dalam pikiran kita, tetapi kitalah yang harus mengendalikannya bukan sebaliknya.
    Semakin kita pikirkan masalah itu bukankah rasanya semakin berat? Seakan-akan tidak ada hal lain yang lebih penting daripada masalah itu sendiri. Lihatlah sekeliling kita, teman-teman dan keluarga kita mungkin bingung bagaimana menghadapi kita yang sedang bermasalah. Diajak bicara akhirnya dimarahi, tidak diajak justru dianggap tidak peduli. Jika terus dibiarkan, bukan hanya kita saja yang stres tetapi lingkungan sosial kita juga akan merasakannya. Cobalah lihat diri kita di masa lalu seperti apa cara kita menghadapi masalah sekaligus bagaimana perasaannya jika berhasil. Seorang teman saya pun sedang merasakan masalah yang sangat berat karena bersangkutan dengan hubungan dengan seseorang, katakanlah itu temannya. Sejak SMA mereka sangat dekat hingga sekarang. Sayangnya, hubungan mereka perlahan-lahan semakin merenggang karena satu dan lain hal ditambah masalah-masalah. Perilaku dia pun menjadi sangat berbeda dari biasanya, menjadi sangat sensitif dan murung sepanjang hari.
    Oleh karena situasinya memang sudah rumit, percuma saja jika saya hanya menyarankan ini dan itu, saya hanya mungkin mencairkan suasana dengan bercanda sedikit dengannya. Harapan saya bercanda akan mengembalikan sedikit keceriaannya dengan sedikit bersenyum agar dia mampu optimis. Siapa tahu dengan senyuman kecil itu dia lebih santai dan pikirannya mulai teralih dari masalah. Biasanya seseorang baru akan mendapatkan solusi-solusi ketika dia meninggalkan masalahnya untuk sementara, memang hal itu yang ada di pikiran saya saat itu. Apabila masalah terus kita pikirkan, terkadang cenderung terlalu banyak berpikir negatif tentang masalahnya. Andai dia mampu melihat sesuatu yang positif dari masalahnya, mungkin dia tidak lagi merasakan tekanan yangs sangat besar seperti sekarang. Berpikir positif akan membuatnya lebih banyak tersenyum dan semakin santai. Pengaruh baginya adalah mulai memandang masalahnya tidak sebesar yang dipikirkan sehingga mampu menyelesaikan masalah itu. Semoga saja harapan itu menjadi kenyataan.
Sedikit senyuman
mengurangi sedikit masalah