Senin, 29 April 2013

"Air" dan "Minyak"

Kelihatannya dunia Psikologi Pendidikan (Pendi) dan dunia Psikologi Industri Organisasi (PIO) jauh berbeda. Hal yang terbayang saat mendengar kata "Pendi" itu sekolah, anak-anak, dan remaja, sedangkan kalau berbicara "PIO" yang terbayang itu perusahaan dan orang dewasa. Beda dunia, beda alam, beda dimensi, kelihatannya saja.... Bahkan ketika membahas keduanya di kuliah, jarang sekali menemukan keduanya dikombinasikan. Yang biasanya dikombinasikan itu Klinis-Pendi dan Klinis-PIO. Ketika pergi ke toko buku pun seperti itu yang terjadi. Anggap saja Pendi itu air, sedangkan PIO itu minyak. Apakah keduanya benar-benar seperti "air" dan "minyak" yang tidak bisa menyatu meskipun keduanya sama-sama zat cair, sama-sama ranah psikologi? Atau sebaliknya?

     Sebelum membahas mengenai dunia Pendi, di sini konteksnya adalah seorang psikolog yang menjadi guru BK (Bimbingan Konseling). Di dalam dunia Pendi, wawancara dapat digunakan kepada berbagai macam subyek, mulai dari murid, guru, dan orangtua, bahkan sampai ke staf-staf di sekolah. Biasanya kalau seorang murid dipanggil guru BK, murid itu berpikir, "Mati deh, ada masalah apa nih? Ada apa sama gue? Kok gue dipanggil?" Asalkan dipanggil ke ruang BK selalu berpikir adanya "masalah," akhirnya ada yang takut alias musuh dengan ruang BK. Tenang, apa yang terjadi di ruangan ini semata-mata untuk membantu saja. Murid yang dipanggil ke ruang BK, umumnya adalah yang memiliki masalah, baik itu masalah akademis maupun perilaku. Kalau ada masalah dengan murid, siapapun yang dekat dengannya dapat dilibatkan untuk mengetahui akar permasalahannya. Jika orangtua dipanggil oleh guru BK, selalu ada yang "lucu-lucu." Entah orangtuanya datang sendiri atau malah meminta pihak lain mewakilinya. Orangtua yang datang sendiri pun ada yang belum mengetahui seperti apakah anaknya di rumah. Mereka umumnya mengatakan, "anak-anak saya baik-baik aja kok Pak, ga ada masalah. di rumah juga baik-baik aja." "Maaf, apa ibu bekerja? Seperti apa jadwal kerja ibu?" "Kerja. Senin sampai jumat dari jam 9 pagi sampai jam 11 malam." Pagi hari bertemu dengan anak, mengantar sekolah, lalu pergi bekerja. Anaknya pulang sendiri ke rumah, tidur pukul 21.00. "Ta-daaa, mama pulang!!!! (Jam menunjukkan pukul 11.00 dan si anak sudah tidur)" Maaf Anda belum beruntung, silakan coba kesempatan Anda di hari berikutnya. Waktu bertemu anak  berkurang karena orangtuanya bekerja, lalu bagaimana orangtua dapat mengenali anaknya lebih dalam?

     Kalau sudah menyangkut masalah kerja, konteks PIO sudah di depan kita. Konteks PIO tidak hanya sebatas seleksi dan rekrutmen calon karyawan, training, dan sebagainya, tetapi juga berkaitan dengan masalah-masalah pekerjaan. Kita perlu mempertanyakan seperti apa deskripsi pekerjaan orangtua si anak, lalu mulai mencari tahu apa masalahnya. Di sinilah kita dapat menggunakan teknik wawancara. Mungkin saja orangtua memiliki alasan kerja lembur, kerja keras sampai larut malam sampai mengorbankan waktu dengan anaknya. Alasan itu bermacam-macam, ada yang memang menyukai pekerjaan sehingga lupa waktu, ada pula yang memikirkan uang sekolah anak, sehingga bekerja keras agar memperoleh penghasilan lebih. Itu baru sekian dari berbagai kemungkinan yang ada. Namun, apa yang dapat dilakukan dalam konteks ini? Ada yang namanya konseling dalam pekerjaan, seorang karyawan bertemu tatap muka dengan konselor. Peran konselor adalah membantunya dalam menyelesaikan masalah. Namanya konseling, tentu di dalamnya ada wawancara. Melalui sesi konseling ini, orangtua si anak akan "diajak" untuk melihat apa permasalahan yang terjadi, sekaligus dibantu dalam menemukan solusi yang tepat.

     Setelah bermain di konteks PIO apa kelanjutannya? Orangtua yang sebelumnya sudah berkonsultasi dengan konselor di perusahaannya sudah memiliki pemahaman bahwa ada masalah yang harus diselesaikan. Pada akhirnya orangtua yang sebelumnya mengatakan anaknya baik-baik saja mulai menyadari kenyataannya tidak seperti itu dan bersedia bekerja sama dengan pihak sekolah untuk bersama-sama mengatasi masalah. PIO dan Pendi kelihatannya berbeda, tetapi masih ada hubungan di antara keduanya. Bahkan keduanya mampu berkolaborasi melalui teknik wawancara untuk membantu seseorang. Berbicara mengenai anak dalam konteks pendidikan, berhubungan pula dengan orangtuanya. Apabila orangtuanya bekerja bersama rekan-rekan di tempat kerja, konteks PIO pun berlaku. Secara teori, air dan minyak memang tidak akan bersatu secara alami (ilmu pasti). Berbeda halnya dengan psikologi yang bukan sepenuhnya ilmu pasti. Psikologi berkaitan dengan biologi dan kimia (ilmu pasti), tetapi juga berkaitan dengan sosiologi yang merupakan ilmu sosial (bukan ilmu pasti). Itulah sebabnya Pendi dan PIO yang kelihatan sangat berbeda masih dapat saling melengkapi satu sama lain.  Kedua hal berbeda bukan berarti tidak dapat bersatu, tetapi keduanya saling melengkapi dan dapat membentuk sebuah kolaborasi.

Jumat, 26 April 2013

Infeksi Fisik, Sakit Secara Mental

Setiap penyakit  tidak ada yang enak pada dasarnya. Ada saja keluhan sakit ini dan itu, baik secara fisik maupun mental. Penyakit Menular Seksual (PMS) atau Sexually Transmitted Infections (STI) pun sama seperti itu. Siapapun yang mengalami STI sama seperti kita yang tidak mengalaminya, mereka tidak memilih untuk sakit, tetapi sakit itu yang datang pada mereka. Secara sederhana, STI merupakan penyakit yang dapat menular pada saat berhubungan seksual dengan pasangan. Dampak yang dirasakan penderita tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara mental.

     Penggolongan STI secara garis besar meliputi ectoparasitic infections (disebabkan parasit di luar tubuh, misal: pubic lice & scabbies), bacterial infections (disebabkan oleh bakteri, misal: gonorrhea, syphilis, chlamydia, dan lain-lain), viral infections (disebabkan oleh virus, misal: herpes, human papillomavirus, & hepatitis), ada pula yang namanya AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) yang disebabkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus). Penyebab STI beragam bukan? Bagaimana infeksi-infeksi ini dapat terdeteksi oleh kita? Ada beberapa infeksi yang dapat dilihat secara kasat mata atau dapat langsung dirasakan, sehingga dapat lebih cepat diberikan penanganan. Misalnya ada rasa gatal-gatal yang intens pada kulit sekitar 4-6 minggu setelah infeksi (scabbies). Atau munculnya "borok" pada area genital (chancroid). Agar tidak salah sangka itu adalah STI atau bukan, lebih baik langsung menemui dokter agar dapat memeriksanya secara lebih akurat. Penanganan medis tidak hanya sekadar penanganan setelah terjadinya infeksi, tetapi juga membuat kita mengetahui apa yang terjadi pada tubuh kita. Contohnya untuk mendeteksi genital warts yang muncul akibat human papillomavirus (HPV) dapat dilakukan biopsy, yaitu pengambilan sampel jaringan untuk diuji di laboratorium oleh ahli patologi (umumnya).

     Para penderita STI tidak hanya menderita secara fisik, tetapi mereka juga menderita secara mental. Beberapa STI dapat memunculkan gejala atau berdampak ke permukaan kulit. Entah kulitnya akan menjadi banyak bercak, banyak "bentol" yang gatal, ada, adanya "borok," dan sebagainya. Kalau munculnya "borok" di daerah genital seseorang mungkin tidak mengalami penderitaan mental separah yang memiliki "borok" di wajah misalnya, apalagi kalau dia adalah seseorang yang mementingkan penampilan. Ada pula seseorang yang tidak terlalu mementingkan penampilan, mereka mungkin berkata "ngapain sih lu kayak parno begitu, santai aja lagi.... Gue aja bisa kluar jalan-jalan, payah" Situasi yang sama dapat menghasilkan perbedaan persepsi di antara mereka, ada yang memersepsikan itu tidak ada masalah, ada yang menganggapnya masalah. Bahkan ada yang berkurangnya rasa percaya diri, menjadi pemalu, dan tidak berani bertemu orang lain karena masalah ini. Keinginan untuk membantu itu sangat bagus, tetapi alangkah baiknya kalau kita bayangkan dulu apa yang akan terjadi apabila kita melakukan sesuatu kepadanya. Contohnya dengan kata-kata sebelumnya, jika kita sebagai penderita STI dilontarkan kata-kata "ngapain sih lu kayak parno begitu, santai aja lagi.... Gue aja bisa kluar jalan-jalan, payah." Apa yang kita rasakan?

     Apa yang membuatnya kurang percaya diri setelah terinfeksi STI? Seperti apa pandangan masyarakat sekitar mengenai STI yang ia alami? Seperti apa reaksi dia terhadap komentar masyarakat mengenai STI yang dideritanya? Itu semua mungkin dapat menjadi sebagian kecil dari faktor-faktor penyebab berkurangnya rasa percaya diri. Masalah-masalah itu ada di dalam pikiran orang bersangkutan, sehingga masalahnya bukan hanya karena fisik tetapi lebih dari itu. Tidak tertutup kemungkinan dia memiliki pikiran irasional tertentu, misalnya "kalau mukaku jelek gara-gara STI, ga ada yang mau temenan sama aku..." Ini juga dapat menjadi masalah, cara mudah untuk melawannya adalah melawan dengan pikiran rasional, yaitu dengan logika,."Apa betul namanya berteman itu selalu melihat fisik?" Sebagai orang lain, kita berpikir masalahnya hanya STI yang membuatnya tidak percaya diri. Akan tetapi jangan pernah dilupakan, pemaknaan situasi oleh individu dan faktor lingkungan juga dapat berpengaruh. Seseorang yang mengetahui apa yang terjadi secara rinci adalah individu itu sendiri. Apabila dia berhasil menyadari masalah-masalahnya dan mengatasinya satu per satu, itu akan membuatnya lebih baik dan lebih percaya diri.

~Masalah sebenarnya bukanlah yang dapat dilihat, tetapi apa yang dirasakan~

Kamis, 04 April 2013

Keys to Starry "Memet"

Di Psikologi ada banyak mata kuliah (MK) legendaris, secara umum ada yang tipenya teori, ada yang berupa hitungan, dan ada juga yang tipenya praktik. Kali ini yang kita ungkap adalah alias "memet," sebagai mata kuliah legendaris gabungan teori dan hitungan. Dari generasi ke generasi selalu ada komentar kelas MK ini menimbulkan efek kantuk dan ujian yang mengerikan. Bahkan pernah ada foto yang tersebar di jejaring sosial yang menunjukkan suasana menjelang ujian memet.  Kepala para mahasiswa tertunduk, ada yang mengganjal kepalanya dengan tangannya, ada yang menguap, dan sebagainya. Seperti apa mengerikannya belum saya ketahui, tetapi kalau efek kantuknya sudah terasa.

     Setiap kali masuk kelas seakan-akan tidak ada hasrat belajar karena saat dosen menjelaskan, suaranya sayup-sayup terdengar. Awalnya, Beliau menempatkan mic di dekat mulut, lama-kelamaan semakin turun, suaranya semakin sayup-sayup. Akibatnya, sulit sekali mendengarkan dan memahami penjelasan Beliau, ditambah lagi mahasiswa-mahasiswa yang ada di barisan belakang kelas malah paduan suara alias PaDus (bukan Panda karDus), berisik versus mellow. Itulah yang terjadi... Di Psikologi diajarkan untuk melatih empati, salah satunya adalah menggunakan konsentrasi full maksimum untuk mendengarkan siapapun yang sedang berbicara, termasuk mendengarkan dosen. Kendala seperti ini sangat sulit diatasi, ada yang "ssssstttt!!!!!" sampai 3 kali atau lebih bibirnya maju 5 sentimeter juga tetap berisik. Daripada lelah melakukannya sampai bibir maju 15 sentimeter, lebih baik diam dan tetap fokus.

     Fokus ya fokus.... Efek kantuk juga memengaruhi fokus rupanya. Apa yang bisa saya kerjakan? Hanya menatap, mendengarkan dosen, dan mencatat materi ekstra mencatat berapa kali saya menguap menggunakan turus (tally). Rekor selama ini adalah 18 kali menguap dalam 2 jam belajar di mata kuliah legendaris yang satu ini. Ternyata perilaku ini mengundang ricuh gemuruh dari teman-teman sebaris di kelas. "Terserah you mau tertawa atau apa... Saya hanya bisa menikmati hidup di kelas ini...TT" Daripada terus-menerus "galau" mencerna penjelasan hitungan yang hampir selalu mengakibatkan MMS ("Mutung" Memet Syndrome). NOTE: "Mutung" itu bukan bahasa yang dapat dijumpai sebagai bahasa formal di Indonesia, ini hanya bahasa artifisial dalam pergaulan. "Mutung" adalah sebuah kondisi saat seseorang tidak bisa lagi berpikir apa-apa karena sudah terlalu stres (umumnya dikenal sebagai "blank" dalam pergaulan).

     Saya yang awalnya memang tidak suka hitungan semakin "illfeel" dengan hitungan. Tibalah musim saat-saat mempersiapkan diri untuk Ujian Tengah Semester (UTS). Ketika melihat jadwal... JRRREEEENNNGG!!! Memet ujian hari Senin 8 April 2013, ujian pertama pula. Oh.. My.. God... Hasrat belajar memet masih kecil, Hasrat untuk MK lain lebih besar, ditambah lagi bobot UTS cukup besar, lengkaplah sudah. Di tengah kemelut duniawi ini tanpa sengaja saya menyadari sesuatu. Saya teringat perkataan guru BK SMA dulu, "Anak IPA memang difokuskan untuk berfokus pada 1 tujuan dengan berbagai solusi, makanya dominan hitungan. Kalau anak IPS difokuskan untuk belajar berpikir secara abstrak dan luas, makanya lebih banyak teori." Memet itu perpaduan teori dan hitungan, artinya melatih untuk fokus pada tujuan dan berpikir abstrak dan luas, ternyata ini maksudnya.

     Dalam minggu penuh kemelut mempersiapkan UTS, tiba-tiba muncul kunci-kunci jawaban untuk latihan soal memet selama ini ekstra ringkasan. WOWWW!!! AMAZINGGG!!! Baiklah... Kunci-kunci ini akan sangat membantu kami semua untuk belajar, hasrat belajar pun sudah muncul berkat perkataan guru BK SMA dan kunci-kunci. Mungkin nanti selama belajar akan merasa pusing-pusing, sakit perut, "eneg", dan tentunya "mutung". Mau diapakan lagi... Nikmati saja... Keys to Starry "Memet," kunci-kunci yang membantu kelulusan mahasiswa dalam MK memet. Keys (Kunci-kunci) yang dimaksud tentu saja kunci jawaban, ringkasan, dan semangat yang baru muncul saat menjelang ujian.  Kunci-kunci itulah yang menjadi terobosan pertama untuk membuka gerbang kelulusan MK memet semester ini. Belajar memet memang selalu mengakibatkan sakit kepala dan jantung berdebar-debar, makanya dikatakan "starry," mata berbintang-bintang alias kunang-kunang. Usaha sekecil apapun mendatangkan hasil, lumayan selama ini selalu mengerjakan tugas, jadi tidak terlalu sulit untuk mengulang materinya. Bye-bye MMS..... (I don't wanna to see you in the next semester)

Minggu, 31 Maret 2013

Satu Aspek Kehidupan Seksual

Kehidupan seksual tidak hanya sebatas kenikmatan menjalin hubungan seksual. Ada beberapa di antara kita yang tidak dapat merasakan kenikmatan itu, salah satu faktornya mereka mungkin mengalami disfungsi seksual. Kata "disfungsi" harus dibedakan dengan masalah-masalah umum yang terjadi dalam kehidupan seksual, karena sudah berbeda konteksnya. Permasalahan umum itu meliputi kurangnya rangsangan, kurangnya hasrat, dan tidak mampu rileks. Umumnya permasalahan ini tidak selalu terjadi dalam kehidupan seksual seseorang. Berbeda halnya dengan disfungsi seksual, sebab yang satu ini sudah mengarah pada gangguan-gangguan pada kehidupan seksual, baik karena faktor fisiologis, maupun psikologis (Carroll, 2010). Apakah setiap individu dapat mengalaminya? Bagaimana dengan individu yang mengalami disabilitas? Apakah mereka juga mengalami disfungsi seksual?

     Faktor-faktor psikologis yang dapat berpengaruh pada fungsi seksual, antara lain takut, stres, kecemasan, depresi, rasa bersalah, marah, ketidaksetiaan, dan lain-lain. Kita pilih satu contoh, "takut" misalnya. Ketika merasa takut, apa yang kita lakukan? Ada yang menghindar dari objek/situasinya, ada juga yang membuat objek/situasi itu tidak ada dari hadapannya. Sama halnya dalam berhubungan seksual, ketika rasa takut ini ada, mau melakukannya atau tidak? Anggap saja orang ini tetap melakukan hubungan seksual meskipun takut. Jangan lupa, faktor psikologis dan fisiologis itu berkesinambungan. Ada kemungkinan rasa takut itu cukup besar, sehingga kualitas hubungan seksualnya menurun. Konsepnya, kedua pihak harus sama-sama nyaman dan senang baru akan efektif hubungannya. Kalau salah satu saja pasangan hanya fokus melawan rasa takut bukan menikmati hubungan dengan pasangannya, bagaimana fisiknya akan merespon? Saat kita berpikir sesuatu yang nyaman, tubuh akan menyesuaikannya dengan pikiran, hasilnya kita merasa nyaman. Sebaliknya, jika kita berpikir sesuatu itu menakutkan, tubuh pun akan menyesuaikannya, hasilnya kita merasa takut dan tidak dapat menikmati hubungan seksual dengan pasangan, juga dapat disertai tidak muncul reaksi fisiologis dan psikologis terhadap rangsang dalam hubungan seksual. Faktor-faktor fisik tentunya faktor yang berkaitan dengan tubuh kita sendiri, misalnya rasa sakit, disabilitas, dan obat-obatan. Penekanannya tetap sama, nyaman atau tidak? cukup ini saja pertanyaannya. Misalkan salah satu faktornya adalah "rasa sakit," kalau sakit merasa nyaman atau tidak? Ketika merasa sakit kita cenderung berfokus pada rasa sakit tersebut, sehingga kenikmatan yang seharusnya dirasakan dalam hubungan seksual menjadi terabaikan. Akibatnya hubungan seksual menjadi tidak efektif, reaksi fisiologis dan psikologis terhadap rangsang dalam hubungan seksual pun tidak muncul. 

     Setelah memahami faktornya, kita sudah mulai mampu memahami gangguan atau disfungsi seksual. Secara umum, gangguan ini dapat diklasifikasikan menjadi sexual desire disorder, sexual arousal disorder,  orgasm disorder, sexual pain disorder, dan sexual dysfunction due to a general medical condition. Sexual desire disorder dicirikan dengan rendahnya dorongan seksual, bersifat sangat subyektif dan dapat merupakan pengaruh dari norma sosial. Berbeda halnya dengan sexual arousal disorder, seseorang mungkin saja memiliki keinginan seksual, tetapi mengalami kesulitan dalam mencapai atau mempertahankan gairah seksualnya. Sexual orgasm disoder berkaitan dengan gangguan yang diasosiasikan dengan "orgasme" (kepuasan dalam hubungan seksual), misalnya wanita yang sulit mencapai rasa puas dikarenakan masalah dengan seseorang tanpa adanya masalah medis, atau pria yang terlalu cepat ejakulasi saat berhubungan (Kring, 2010). Sedangkan sexual pain disorder ditandai dengan rasa sakit/kekejangan saat berhubungan seksual tanpa masalah medis. Kesimpulannya, empat gangguan pertama itu tidak dikarenakan masalah medis (fisik), sedangkan sexual dysfunction due to a general medical condition adalah yang diakibatkan faktor fisik.

     Sejak awal kita berbicara mengenai salah satu aspek kehidupan seksual pada individu yang tidak mengalami disabilitas. Namun, bagaimanakah kehidupan seksual penyandang disabilitas? Kita pilih sebuah contoh, misalnya seseorang yang mengalami Down's syndrome. Di masyarakat mereka dipandang sebagai golongan individu yang lemah secara fisik dan berinteligensi rendah, Memang benar, mereka seperti itu, tetapi apakah mereka terbatas dalam semua hal? Yakin?? Sebagai manusia, mereka pun memiliki kebutuhan yang sama seperti manusia yang tidak mengalami disabilitas pada umumnya, termasuk kebutuhan seksual. Mereka butuh rasa sayang dan perhatian sama seperti kita semua. Sebelumnya saya hanya pernah bertemu dengan seorang anak yang mengalami disabilitas ini sebelum belajar psikologi, bahkan saya tidak mengenalnya. Saya hanya mengetahui orangtuanya memberikan perhatian dan rasa sayang yang besar bagi anak ini, saya penasaran apa yang menjadi kelebihan dari anak ini. 

http://www.99fm.com.na/wp-content/uploads/2013/03/down-syndrome.jpg

     Ketika mengikuti seminar berjudul "Half Day with Down's Syndrome" akhirnya muncul gambaran baru. Di dalam seminar ini, kami berkesempatan bertemu langsung dengan sekelompok anak dengan disabilitas ini. Ternyata mereka mampu bermain musik, bernyanyi, bahkan ada yang mampu meraih juara satu untuk olahraga renang. Ada pula ungkapan bahwa mereka lebih stabil secara emosional daripada orang yang tidak mengalami disabilitas. Mengesankan bukan? Di dalam seminar ini pun disinggung bagaimana kehidupan seksual si anak dari persepsi orangtuanya. Orangtuanya mengungkapkan bahwa saat dia SMP, dia pernah berkata, "Ma, dia (teman perempuannya yang tidak mengalami disabilitas) cakep ma, kayaknya aku suka deh sama dia." Seperti yang kita tahu, saat mencapai usia SMP, ketertarikan seksual itu sudah mulai muncul, seringkali dikatakan sebagai "cinta monyet." Ini merupakan salah satu bukti ia ingin kebutuhan seksualnya terpenuhi, apa bedanya dengan anak-anak lainnya? Pada usia ini memang itulah yang terjadi pada anak yang mengalami disabilitas, maupun tidak. Tidak tertutup kemungkinan pula seseorang dengan Down's syndrome juga dapat mengalami disfungsi seksual, karena perkembangan seksual mereka itu tidak terhambat dan berlangsung seperti anak-anak pada umumnya. Mungkin saja seorang anak dengan Down's syndrome terbatas secara motorik dan inteligensi, tetapi mereka masih sama seperti kita pada dasarnya.

~Secara penampilan memang berbeda, tetapi selalu ada kesamaan di antara kita semua~

Referensi:
Carroll, J. L. (2010). Sexuality now: embracing diversities (3rd ed.). Belmont, CA: Wadsworth.
Kring, A. M., Johnson, S. L., Davison, G. C., & Neale, J. M. (2010). Abnormal psychology (11th ed.).  
     Wiley & Sons. New Jersey, NJ: Wiley & Sons.

Kamis, 28 Maret 2013

Laporan Hasil Wawancara

Seorang atau sekelompok wartawan yang sedang berburu berita baik itu dari selebritis atau dari orang-orang di tempat kejadian berlangsung selalu menampilkan sesuatu yang sama. Apakah itu? Membawa recorder, membawa buku catatan kecil, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terus bertambah banyak sampai segunung. Tujuannya adalah memperoleh berita dan menyajikannya kepada masyarakat. Bentuk penyajiannya pun beraneka ragam, ada yang melalui televisi, majalah, tabloid, dan lain-lain. Wawancara dalam psikologi pun hampir sama, kita tetap membuat laporan hasil wawancara. Apa saja isinya dan kegunaannya?

     Namanya laporan, ada sekian hal yang harus diingat, misalnya mencantumkan waktu berlangsungnya wawancara, tempatnya, dan biodata subyek. Tidak perlu membayangkan biodata yang dimaksud itu benar-benar rinci sampai nama lengkap, kode pos, hari kelahiran, jam kelahiran, dan lain-lain. Untuk nama, cukup inisial saja, alamat sudah cukup dengan daerahnya saja, misal: "Taman Shaggy (ini hanya nama karangan, bukan alamat yang dapat Anda jumpai dimanapun)." Mengapa demikian? Jangan lupa, rahasia narasumber itu ada di tangan kita. Sebagai orang yang dipercaya sudah seharusnya merahasiakan identitasnya saat hasil wawancara disajikan agar isinya tetap dapat disajikan tetapi tidak diketahui secara pasti siapakah subyeknya. Andai ketahuan karena nama lengkap, yang membacanya mungkin berkata "lho? itu kan tetangga saya yang begini-begini lhoo (mengungkapkan rahasia lain)." Semakin banyak informasi yang harus menjadi rahasia tiba-tiba tersebar kemana-mana dan tidak seharusnya terjadi. 

Hasil wawancara dikemas dalam bentuk laporan agar mudah
dibaca dan dipahami
Sumber: Matoa.org
     Proses berikutnya adalah menuliskan hasil wawancaranya. Secara umum terdapat tiga hal, antara lain hasil wawancara, observasi subyek, dan refleksi sebagai pewawancara. Hasil wawancara berisi cerita subyek secara sistematis, bukan cerita proses wawancara, yang disajikan itu berupa informasinya, bukan prosesnya. Prosesnya itu nanti dapat dibahas di bagian lainnya. Poin berikutnya observasi, observasi memang kadang-kadang terlihat subyektif, tergantung siapa yang melakukan. Siasatnya, yang disajikan itu adalah perilaku subyeknya secara konkret, spesifik, dan faktual tanpa kesimpulan dan opini dari kita sebagai pewawancara mengenai perilaku subyek. Apa saja yang dapat diobservasi? Singkatnya kita dapat mengobservasi dari lingkungan saat wawancara berlangsung, penampilan subyek, dan perilaku (verbal/nonverbal). Di awal dikatakan yang diobservasi itu perilaku, tetapi mengapa ada observasi lingkungan dan penampilan? Lingkungan (fisik/sosial) dan penampilan dapat memengaruhi perilaku seseorang. Contoh, kita melihat seorang perempuan sedang menggunakan kertas untuk mengipas-ngipas. Kalau diajukan pertanyaan, "Mengapa dia menampilkan perilaku itu?" Ternyata matahari sedang terik, ada asap kendaraan, dan ada asap ayam bakar (nanti rambutnya wangi parfum ayam bakar), sehingga dia mengipas untuk mengurangi asap dan panasnya udara. Bagaimana dengan penampilan? Bayangkan ada seseorang yang mengenakan mantel di tengah teriknya matahari sementara orang lain mengenakan T-Shirt, kenyataannya dia mengipas-ngipas juga. Berarti penampilannya membuatnya merasa panas, sehingga dia mengipas-ngipas. Inilah yang menunjukkan mengapa perlu mengobservasi lingkungan dan penampilan di samping observasi perilaku. Dari ketiganya, kita akan mampu mengetahui apa yang dirasakan seseorang termasuk emosi dan pikirannya.

Dengan bercermin kita akan tahu siapa dan
seperti apa kita di mata orang lain.
Sumber: bksmpn2turi.blogspot.com
     Poin terakhir adalah refleksi. Di bagian ini, seakan-akan kita bercermin dengan diri sendiri sebagai pewawancara. Kita mencoba mengaitkan apa saja yang kita perbuat dalam wawancara dengan teknik wawancara yang seharusnya. Misalnya mengaitkan perilaku kita dengan keterampilan dasar wawancara (dari membina hubungan baik dengan subyek sampai mendengarkan secara aktif). Ohhh ternyata cara saya membina hubungan itu masih belum bagus karena saya masih cenderung memasang ekspresi muka datar sampai subyek bingung harus berperilaku seperti apa. Ohhh rupanya terlalu banyak mencatat itu juga tidak baik, karena saya semakin asyik dengan catatan bukan dengan apa yang dikatakan subyek. Itulah maksudnya refleksi, sehingga kita akan mengetahui kelebihan dan kekurangan sebagai pewawancara atau bahkan mampu mempertahankan atau mengembangkan kemampuan wawancara kita selama ini. Sekadar mencari informasi siapapun mampu melakukannya termasuk dengan wawancara, tetapi belum tentu mampu menyajikannya dengan baik. Analoginya, di kelas ada mahasiswa yang sangat pintar, tetapi dia memiliki kelemahan "mentransfer" ilmunya kepada teman-teman. Hal terpenting itu bukan sebatas sebanyak apa informasi yang kita peroleh, tetapi bagaimana kita dan orang lain mengerti isinya melalui sebuah laporan.

Jumat, 22 Maret 2013

Sterilisasi

  Secara sederhana, kontrasepsi merupakan usaha untuk mencegah kehamilan. Ada yang mengatakan kehamilan dan punya anak itu adalah berkah, tetapi mengapa harus dicegah? Memiliki anak dalam sebuah keluarga memang sesuatu yang menyenangkan, tetapi di sisi lain tentu saja kesejahteraan anak dan keluarga harus diperhatikan. Bayangkan jika memiliki 10 anak tetapi tidak berkecukupan secara finansial, kasihan anaknya kan? Kebutuhannya terpaksa harus dibatasi, pendidikan pun menjadi terbatas, belum lagi masalah kesehatan dan lain-lain. Untuk itulah dilakukan kontrasepsi yang merupakan salah satu upayanya. Kotrasepsi itu sendiri bermacam-macam jenisnya, salah satunya adalah melalui permanent (surgical) methods atau yang biasa dikenal dengan sebutan sterilisasi.

     Sterilisasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu sterilisasi untuk wanita dan untuk pria. Pada wanita, sterilisasi dilakukan dengan tubal sterilization (tubektomi). Metode ini dilakukan dengan memotong, mengikat, atau pembakaran (kauterisasi) tuba fallopi yang merupakan saluran antara ovarium dan rahim untuk kontrasepsi permanen. Sterilisasi pada pria disebut vasektomi. Makanan apakah vasektomi itu? Vasektomi itu adalah metode operasi dalam memotong, kauterisasi, dan mengikat vas deferens pada penis (Carroll, 2010). Keduanya merupakan kontrasepsi yang bersifat permanen. Baik tubektomi, maupun vasektomi, tentu pasangan harus mempertimbangkannya dengan benar-benar matang sebelum melakukan. Kedua metode itu sama-sama tidak memengaruhi hormon dan tidak memiliki efek jangka panjang serta masih dapat bercinta, ini merupakan kelebihan jika dibandingkan dengan metode kontrasepsi lainnya yang bersifat hormonal. Para peneliti dari University of Southern California pernah melakukan penelitian mengenai hal ini. Penelitian itu dilakukan dengan menggunakan dua kelompok wanita yang mengalami kegemukan. Kelompok pertama berisi wanita yang menggunakan metode kontrasepsi non-hormonal; kelompok kedua berisi wanita yang menggunakan metode kontrasepsi hormonal. Hasilnya, terdapat perbedaan kandungan glukosa dalam darah berkaitan dengan kadar hormon progestin yang berasal dari kontrasepsi kelompok kedua yang mengakibatkan kegemukan pada wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal dalam penelitian ini.

isihatirevaival.blogspot.com

     Di kelas Perilaku Seksual muncul sebuah pertanyaan, "Kenapa sih kok kayaknya laki-laki itu susah buat diajak vasektomi?" Namanya vasektomi, selalu ada bayangan operasi permanen. Sesuatu yang permanen ini menjadi pertimbangan tersendiri bagi laki-laki untuk melakukan vasektomi. Siapa bilang memutuskan ini adalah hal yang mudah? Sebuah acara TV pernah mengangkat topik ini sekaligus membahas bagaimana prosedur dan perasaan pasien yang menjalani sterilisasi. Di acara ini diungkapkan, sebelum melakukan sterilisasi (tubektomi dan vasektomi) suami istri harus membuat kesepakatan terlebih dahulu, kalau perlu "hitam di atas putih" sebagai surat persetujuan dilakukannya sterilisasi. Dilakukannya sterilisasi sebenarnya bukan "permanen" dalam arti sebenarnya, tetapi masih dapat dilakukan pemulihan agar dapat kembali mempunyai anak. Seakan-akan ini keputusan besar bagi pria, apalagi pria yang takut kehilangan "kejantanannya," mungkin dia akan merasa sangat cemas jika diminta melakukan vasektomi. Kalau diajak untuk mengikuti acara-acara, menonton bioskop, menonton konser, dan lain-lain itu mudah memutuskannya. Kalau yang satu ini tidak mudah, karena harus memiliki komitmen yang kuat dan kesepakatan antara suami istri. Di dalam acara TV itu juga ada pembicara yang merupakan seorang pria yang pernah melakukan vasektomi. Beliau ditanya bagaimana perasaan setelah melakukannya. Dari komentarnya, Beliau merasa puas karena dapat bercinta dengan istrinya tanpa khawatir istrinya hamil lagi. Selain itu, apabila sang suami melakukannya itu menjadi nilai plus bagi istrinya. Seringkali suami meminta istrinya melakukan kontrasepsi, kalau salah ganti lagi dan ganti lagi. Pertanyaannya, apa sang suami mampu berkorban demi cinta  seperti istrinya melakukan hal itu? Jika mampu, komitmen pernikahan di antara keduanya akan semakin kuat berkat pengorbanan keduanya. Cinta di antara keduanya tidak lagi sekadar menerima, tetapi saling memberi kepada pasangannya.

Love is more than a noun--it is a verb; it is more than a feeling--it is caring, sharing, helping, sacrificing

-William Arthur Ward-

Referensi:
1. Carrol, J. L. (2010). Sexuality now: embracing diversity (3rd ed.). Belmont, CA: Wadsworth.
2. http://keluargaberencana.com/kontrasepsi/pilihan-metode/kontrasepsi-mantap/tubektomi/
3.  http://keluargaberencana.com/kontrasepsi/pilihan-metode/kontrasepsi-mantap/vasektomi/
4.  http://health.detik.com/read/2013/02/17/080202/2172100/763/alat-kontrasepsi-hormonal-tingkatkan- 
     risiko-diabetes-pada-wanita-gemuk

Kamis, 21 Maret 2013

Social History

     Sejak SMA sampai sekarang, kalau ada tugas wawancara selalu diberikan tujuan, misalnya wawancara guru, wawancara orangtua, wawancara seorang wirausahawan, wawancara psikolog, dan lain-lain. Namun, selama ini yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kemampuan membina hubungan yang baik agar wawancara menjadi lancar, melatih teknik bertanya, melatih cara berpikir kritis, dan sebagainya. Semua itu lebih mengarah ke teknisnya wawancara. Pernahkah terpikir apa saja yang dapat berpengaruh pada pengalaman narasumber dan pendapat-pendapatnya ketika diwawancara? Itulah yang akan kita bahas kali ini, social history (riwayat sosial)....

     Judulnya memang history (sejarah atau riwayat), jangan dianggap seperti pelajaran sejarah yang penuh dengan nama-nama artis dan tahun-tahun berjayanya. Konteksnya itu sosial, artinya yang kita bicarakan adalah konteks munculnya masalah klien dari lingkungan  sosialnya. Melalui riwayat sosial, kita akan mampu mengenal klien lebih dalam dan mengetahui akar masalahnya termasuk pandangannya terhadap sebuah peristiwa. Riwayat sosial ini beraneka ragam, dapat berupa cerita dari klien, family origin, pendidikan, dan masih banyak lagi. Konteks seperti apapun hampir sama, kalau berbincang atau wawancara dengan seseorang yang mencurahkan isi hatinya (curhat), apa yang kita cari? masalahnya. Masalah yang dialaminya itu yang menjadi target selama ini. Ketika ditanya, memangnya masalah itu darimana asalnya? Bingung, galau, tidak tahu, ragu-ragu menjawab, dan teman-temannya melebur dalam pikiran kita. Itu berarti kita belum dapat membantu orang ini, karena belum benar-benar mengerti peristiwa yang dihadapinya termasuk akar masalahnya. Poin terpentingnya itu seperti apakah orang ini memaknai peristiwa itu? Apa tujuannya? Agar kita mengetahui bagaimana dia menghadapi situasi itu tentunya. Seseorang yang datang kepada kita bukan orang yang tidak bisa menghadapi masalah. Mereka tahu caranya, tetapi cara yang digunakan itu tidak cukup efektif, sehingga membutuhkan bantuan dan dukungan dari kita.

pencenk-estry.blogspot.com
     Supaya mudah membayangkan tentang family origin, bayangkanlah pohon keluarga, bukan pohon tauge, pohon beringin, dan pohon pisang. Salah satu kegunaannya mengetahui darimana asalnya masalah yang dialami klien, baik itu berupa gangguan yang berasal dari lingkungan keluarga, atau secara genetik (keturunan). Misalkan apabila konteksnya klinis, anggota keluarga yang mana saja yang mengalami gangguan sama dengan klien? Apakah ada penyebab gangguan itu secara genetik? Lingkungan keluarga juga dapat memengaruhi apa yang terjadi pada klien. Contohnya satu rumah terdiri dari 10 keluarga dan keputusan klien (anak) harus dipertimbangkan oleh 10 keluarga itu. Andaikan 10 keluarga itu tidak menyetujui keputusannya, lebih berat tidak disetujui orangtua saja atau tidak disetujui oleh keluarga sendiri dan keluarga besar secara serempak? Bisa jadi pada akhirnya anak akan merasakan kecemasan saat ingin mengungkapkan pendapat atau keputusannya, sebab selalu berpikir akan ditolak sejumlah orang.

     Melalui pendidikan pun kita juga dapat mengenali seseorang. Melalui pendidikan kita dapat mengetahui bagaimana dan seberapa keras usahanya mencapai performa selama ini, termasuk seberapa baik performanya. Satu hal yang perlu diingat, seseorang yang sukses secara akademik belum tentu bagus juga di dunia kerja. Ada banyak sekali faktor yang memengaruhinya, salah satunya apakah dia mudah dibentuk oleh lingkungan kerjanya atau tidak. Lowongan kerja di koran umumnya menuliskan satu soft skill, yaitu fleksibilitas. Berarti kandidat diharapkan merupakan orang yang dapat menempatkan diri dalam berbagai situasi dan bersedia dibentuk. Terdapat kecenderungan bahwa orang yang berprestasi itu lebih sulit dibentuk, terutama apabila dia masih "memaksakan" konsep yang sudah dipelajari. Perlu diketahui, konsep yang dipelajari melalui pendidikan itu adalah dasarnya, di tempat kerja tersedia konsep pengembangannya. Itulah hambatannya dalam kesuksesan.
     Itu baru sebagian kecil dari riwayat sosial, tidak perlu galau karena memikirkan apa saja yang tercakup dalam riwayat sosial. Semuanya memang banyak, semuanya berbeda, tetapi penerapannya sama. Secara sederhana, riwayat sosial ini adalah sesuatu yang dapat kita tanyakan saat wawancara, terutama untuk sesi pertama. Sesi pertama adalah saat-saatnya gencar mengumpulkan data mengenai klien dan mengorganisasikannya agar lebih teratur dan mudah dipahami. Biarlah klien bercerita minimal satu makalah kalau dibuat dalam bentuk tertulis. Tujuannya adalah agar klien mampu melepas sebagian dari bebannya, agar pada sesi berikutnya dia merasa lebih baik. Selain itu, kita juga memiliki lebih banyak informasi setelah bertanya mengenai riwayat sosialnya dan mampu mendapat gambaran seperti apa dia. Kita tidak akan pernah mengenal lebih dalam siapa lawan bicara kita jika kita menutup mata dari apa yang dialaminya dan dia rasakan selama ini. Ketika kita tahu apa yang dialami dan dirasakannya, di situlah kita akan mulai mengenalnya.